Selasa, 26 Desember 2017

Menelisik Makna Harfiah dan Metaforis dalam Diksi Gubahan Pertama, juga Totalitas Makna untuk Puisi-puisi di Dalamnya. (Collab Project with Yunka)

Gubahan Pertama - Majalengka Book Eaters (LokaMedia, 2017)
“Kertas boleh robek, buku pun boleh musnah. Namun, sesuatu yang terkandung di dalamnya, semoga temukan abadiah. Hidup bersama orang-orang yang telah membaca karya yang tak seberapa ini."
Penggalan dari prakata Gubahan Pertama yang menggambarkan betapa kuatnya nilai sebuah tulisan. Seperti yang diutarakan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian. Jika ditelisik, bekerja dalam arti sempit berarti menghasilkan suatu produk. Pun halnya dengan menulis. Produk berupa perenungan, pemikiran mendalam atau sekadar hiburan berbalut rangkaian aksara tercipta karena prosesnya. Inilah yang kelak akan memengaruhi pola pikir dan perilaku manusia sehari-hari. Input dari tulisan ini yang kiranya akan hidup secara terus menerus dalam diri pembaca.

Gubahan Pertama ini terdiri dari 58 puisi dengan tema yang beragam. Mengapa Gubahan Pertama? Kata ‘gubah’ atau ‘gubahan’ yang selama ini kerap kali difungsikan untuk musik, terlebih karya klasik, secara harfiah berarti sebuah karangan, terutama yang masuk ke dalam kesusastraan. Diluar nilai harfiah, saya ingin menegaskan bahwa Gubahan Pertama adalah karya komunitas Majalengka BookEaters yang pertama, pure, di luar dari fakta bahwa beberapa kontributor telah memiliki karya sendiri yang dibukukan. Pemilihan judul Gubahan Pertama ini menyiratkan makna kerja sama serta kekompakan. Dan, jika ada yang ‘pertama’ tentu akan ada bilangan lainnya yang mengikuti. Bagaimana jika yang ‘pertama dan terakhir’? Ah, itu lain hal. 

Bila Esok Tiada; Jejak; Lukisan Fana; Memuliakan Usia; dan Perjalanan merupakan serangkaian puisi yang digubah oleh Alifadha Pradana yang sebelumnya telah menulis beberapa antologi lain yang sudah dibukukan. Menurut saya, kekuatan puisi-puisi Alifadha terletak pada pesan moral yang disampaikan. 
Di sana,
Ada corak cerah ceria
Juga tersemat warna kelabu duka
(Lukisan Fana)
Penulis sepertinya memang berkecimpung dalam karya sastra yang santun, tidak lepas dari image tersebut. Ia nyaman menggunakan diksi sederhana, kendati saya yakin bahwa penulis masih bisa mengeksplor lebih. Puisi-puisi penulis saya ibaratkan sebagai sebuah jembatan untuk  menyampaikan nilai-nilai kebenaran. Diksinya tidak mewah dan pesan dari puisi penulis sudah bisa didapatkan hanya dengan sekali membaca, tak perlu menggali lebih dalam untuk mendapatkan pesan moralnya.
Aku akan terus melangkah
mewujudkan semua damba
yang menghasrat di jiwa.
Dan semoga ...
semua kan menjelma nyata.
(Jejak)
Namun, jika saya melihat dari sudut pandang berbeda, tampaknya penulis ingin menyampaikan pesan kepada semua pembaca yang tak terbatas usia, maka dari itu beliau menyederhanakan pemilihan diksinya.

Seperti yang diungkapkan oleh Yunka, bahwa puisi-puisi karya Alifadha Pradana benar-benar mencerminkan kelembutan hati seorang ibu.

Dilema Manusia Setengah Pagi dan Malam karya Zakir Al Fatih.
Yunka mengungkapkan bahwa dirinya mengagumi sensibility yang dimiliki oleh penulis. Penulis mengisahkan orang-orang nokturnal yang berjudi dengan keadaan demi menghidupi diri.
Bertahan tetap terjaga
Atau,
Tidur nyenyak tak dapat apa-apa
Tiga puisi penulis lainnya yakni Gadis Api; Kenangan di Tepi Dermaga dan Untuk Rindu berhasil menarik perhatian Yunka. Hanya saja, Yunka memiliki ekspetasi lebih terhadap penulis. Ia percaya bahwa penulis yang memiliki sense of literature yang tinggi, mampu menghidupkan puisi-puisinya secara lebih maksimal.

Saya dan Yunka memiliki kesamaan pendapat mengenai Serambi karya Erika Reieru. Kami sama-sama menyukainya. Terlebih lagi, Yunka mendapati sebuah ketulusan penulis dalam karyanya. Yunka pun mengungkapkan bahwa diksi yang disajikan penulis dalam Serambi cukup menarik dan tidak monoton, berhasil menyampaikan pesan dengan baik.

Jika ditelisik, Serambi ini jelas membicarakan seseorang (yang saya yakini adalah seorang anak). Penulis mengambil sudut pandang sebuah serambi yang menjadi saksi bisu perbincangan sebuah keluarga. Perasaan rindu, homesick dan kedewasaan menjadi suguhan utama. Kedewasaan memang memisahkan. Terdapat pilu pada paragraf terakhir.
Dan kini hanya terdiam berdampingan menembus waktu
Dari penggalan di atas, saya menangkap bahwa serambi sebagai mata lain tengah merasa pilu atas perasaan orang tua yang terpaksa berpisah dengan anaknya atau siapa pun itu yang tidak disebutkan.

Selain Serambi, penulis menulis puisi berjudul Kelakar Benih; Sang Hujan dan Nyiur Aceh. 

Kelakar Benih mengambil tema mengenai keserakahan manusia dengan menganalogikan benih pohon yang menyerap sari-sari semesta tanpa menyisakan apa pun untuk benih lainnya hingga ia kokoh namun tak berbuah ranum. Esensinya memang luar biasa karena  cakupannya hanya sebatas benih-benih pohon.

Yunka menelisik lebih dalam mengenai sari-sari semesta yang terserap yang kemudian menjadikan pepohonan sebagai penyumbang oksigen terbesar bagi makhluk lain. Dalam hal ini, jika penulis mencakup objek yang lebih luas maka analogi ini membutuhkan penyempurnaan lebih lanjut.

Berbeda dengan Kelakar Benih, Nyiur Aceh menyajikan tema mengenai cinta pada pandangan pertama. Makna yang Yunka tangkap dari puisi ini adalah ... bahwa seseorang yang sekian lama diam di hutan pinus akhirnya tergoda oleh keindahan Nyiur Aceh untuk kali pertama. Ia meninggalkan pinus demi mengejar sesuatu yang ternyata tak seindah yang ia bayangkan di awal. Sesuatu yang menarik bahwa penulis membuat analogi menggunakan istilah pinus dan Nyiur Aceh. Adakah keduanya memiliki filosofi tersendiri atau hanya dipilih secara random? 

Setelah membaca Angin, Duka Mulia Majalengka, Sahabat dan Sunada karya Rafli Rizki, saya mengambil satu kesimpulan bahwa penulis selalu menyisipkan satire di setiap puisi-puisi karangannya. Baik dalam keseluruhan bait atau hanya pada larik-larik tertentu saja.
Karena leluhur berbudi luhur!
(Duka Mulia Majalengka)
Penulis juga mengangkat isu lokalitas yang teramat kental dalam Duka Mulia Majalengka. Dengan menyebutkan serangkaian nama leluhur yang disambat oleh tokoh aku dalam puisinya, saya merasa bahwa pengetahuan penulis mengenai sejarah Majalengka sangatlah dalam. Namun, saya mendapatkan diksi yang tak memiliki korelasi dalam makna apa pun ataukah saya yang gagal untuk memaknainya? 

Berbeda dengan karya Rafli Rizki yang kentara akan satire, puisi-puisi AN bak penyegar dalam kumpulan puisi Gubahan Pertama. Adalah Budi; Johari; serta Wajah, Dompet, Kelamin dan Hati dengan nuansa jenaka dan diksi sederhana yang memberi gelak tawa sekaligus perenungan.

Dalam puisi Budi, penulis menulis bait yang serupa. Di bait kedua dengan penambahan tanda baca dan mengubah bait terakhir menjadi kalimat tanya. Sejujurnya, saya masih menyimpan tanda tanya besar terhadap puisi ini. Sebagian orang beranggapan bahwa ini tampak seperti puisi tanpa makna. Namun, saya menangkap ada nilai intelektual yang terkandung di dalamnya. 

Johari memiliki makna hubungan vertikal. Saya merasa diksinya terkesan membosankan karena terdapat repetitif yang jelas bukan konsep. Namun, Yunka mengungkapkan bahwa diksi penulis dalam Johari justru menarik, terlepas dari sisi repetitifnya itu sendiri.
Johari dengan harinya
Sedang harinya adalah milik Engkau.
(Johari)
Aku menyoroti bait ketiga dalam puisi Wajah, Dompet, Kelamin dan Hati.
Aku harus kuasai dunia
Memang kelaminku perkasa
Namun, Ratu Diana lebih menyukai Ratu Cleopatra
Ah ... kelaminku tumpul
Pada larik ketiga, jelas, ini meruapakan sebuah perumpamaan atas bobroknya nilai moral pada masa sekarang, terlebih perihal isu LGBT. Namun, saya tak pernah mendapati informasi mengenai Diana yang menyukai Cleopatra. Benarkah? Atau larik yang tertera memang pure sebuah analogi saja?

Tuhanku gubahan Shendi Rosyian adalah salah satu puisi yang menarik perhatian Yunka. Yunka menemukan makna penghambaan diri dari bait-bait keputusasaan.
Bibir-bibir takdir begitu getir
iman tak bisa lagi kuukir
Pada jalan pikir.
Tuhanku,
tubuh ini telah lama aku pinjam
Namun, hati kian tak mau terpejam.
Dalam perspektif Yunka, terdapat sebuah ketidakkonsistenan makna. Sejak awal diungkapkan bahwa tokoh aku dalam puisi berada dalam keadaan yang putus asa dan terombang-ambing dalam imannya. Sementara tampak kontras dengan keadaan demikian, penulis menuliskan larik ‘Namun, hati kian tak mau terpejam.” Jika dikorelasikan dengan larik sebelumnya, tokoh aku menyadari nikmat jasmani yang ia miliki dan menyesal karena masih tak mampu berbuat apa pun untuk mengukuhkan imannya. Namun, kata ‘terpejam’ yang penulis tulis tampaknya justru tak menyanggah apa pun. Karena hati terpejam yang Yunka yakini adalah hati yang mati.

Selain Tuhanku, adalah Kepada Ibu di Tenggorokanku yang mewakili isi hati para pecundang yang tak sanggup melawan beratnya hidup, terlebih getirnya patah hati.
Ibu
Aku ingin menua di rahimmu
Tempat dimana aku lahir dulu
Sebelum aku mengenal patah hati
Dari 58 puisi yang tertuang, saya dan Yunka sepakat bahwa puisi karya Mudofr merupakan puisi pamungkas yang sangat matang. Berladang di Kepala, Ejawantah dan Udara Rebah merupakan judul-judul yang ditulis Mudofr. Saya sendiri sebagai seorang penikmat diksi, terkagum-kagum dengan pemilihan diksi yang Mudof bawa.
Yang sekian waktu ini bukan penghabisan. Sebab,
jatuh cinta padamu berulang-ulang
seperti waktu mencari bilangan ganjil dalam putaran
(Udara Rebah)
Terkesan tangguh, tetapi rapuh. Bilangan ganjil yang dimaksud yakni angka 13 dalam jam. Mencintai tanpa henti, tetapi tak mendapatkan apa yang tengah dicari. Dalam tiga larik yang tersaji pada bait pertama, saya sudah merasakan kepiluan. Mengingatkan saya akan kalimat singkat “For Sale: Baby Shoes Never Worn” yang ditulis oleh Ernest Hemingway. Demikian halnya dengan Mudofr. Meski salah satu puisinya sangat panjang, namun setiap kata yang ia tuliskan selalu bermakna.

Namun, Yunka mengungkapkan bahwa dalam beberapa bait, ia merasa bahwa puisinya terkadang lepas. Feelingnya tak lagi sampai namun kemudian terhubung kembali. Seperti itulah.

Selaras dengan Mudofr, puisi-puisi karya Hujan Duri pun tampak begitu matang. Mengingat penulis telah menerbitkan buku kumpulan puisinya. Yunka pun mengatakan bahwa tone puisi karya Hujan Duri mengingatkan dirinya akan karya-karya Kahlil Gibran.

Masih banyak sekali puisi dalam Gubahan Pertama yang ingin saya bedah totalitas maknanya. Mari kita bedah bersama. Baca bukunya, pahami maknanya kemudian bertukar pikiran. Saya yakin, banyak sekali perspektif yang berbeda yang bisa kita obrolkan. 

Saya yang menempatkan diri sebagai pembaca, kendati saya ikut menulis 4 puisi, merasa bahwa para penulis bisa lebih mengembangkan potensi yang memang sudah dimiliki. Semoga ke depan, akan lahir Gubahan Kedua, Gubahan Ketiga dan seterusnya.

2 komentar:

  1. Hola~
    Bagus deh tulisannya. Haha..
    Aku nyoba ngeblog juga. Bikin baru dan belum diapa-apain.
    Baru post pertama. Coba tinggalkan jejak hey kamu. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wew :p
      Semangat, Buk! 😁
      Write everything you wanna write.

      Hapus

Silakan berkomentar. :)